14 Jun 2012

Raker Limut

Yeah...dapet pengalaman gokil lagi, hidup yang penuh warna dan itu sangat membanggakan. Malam minggu yang paling dramatis yang aku rasain, membeku dipuncak limut. Berawal dari sebuah acara makrab dan raker forum komunikasi anti narkoba. Pukul 16.00 teng memulai perjalan dari tembalang, bersama rangers yang lain (hehe...ksatria wanita) ada Anin, Fira, dan Dela. Memulai perjalanan aja udah dramatis, yah baru 5 menit jalan kita udah diberi berkah keujanan, (sipz dingin dan sedikit basah, masing untung kita pake jas hujan)

Sampai di tempat perjanjian dengan keadaan yang masih linglung (yak maklum, otakny luntur kebawa air ujan :p). Berkumpul dengan anggota forkom dari Universitas yang lain dan kabar keberangkatan masih simpang siur, karena ketuany tak kunjung datang padahal matahari sudah hampir tenggelam. Makin pengin pulang dan menyerah untuk melakukan perjalanan ini (padahal cuma raker, tapi nyari tempatnya udah kaya burung mau bertelor). Lanjut cerita, akhirnya sang ketua datang disaat adzan maghrib dan dia maen angkut-angkut aja... --" (maklum ketuanya terlalu galau kayaknya, udah gelap mata #apa hubunganny juga ya :p)
Kita putuskan sholat maghrib dahulu, setelah sholat, saya luapkan isi hati saya pada sang ketua. Apakah luapan isi hati itu??Yah kepesimisan saya terhadap perjalanan ini, gimana gak pesimis, kita mau kepuncak dalam keadaan sudah gelap, orang gak waras macam apa yang melakukan hal ini

Akhir 700 Kilometer

Kayaknya aku ceritain kisah ini gak kelar-kelar ya, sesuai judulnya 700 Kilometer, ceritanya sepanjang jalan yang telah dilalui. Danau warna, yak jangan berharap penuh warna kaya pelangi, ada merah kuning hijau dilangit yang biru. Tapi danau yang beda dari danau-danau biasa yang lainnya, warnanya cantik, biru, hijau dan pemandangan yang tak membosankan mata...

Danau Warna
Satu lagi karya sang pencipta yang bisa aku nikmati kenyataannya, bukan hanya sekedar gambar, namun mata ini real melihat bentangan alam itu... (subhanallah...). Biasa, hobi kita mah foto-foto, mengabadikan moment, untuk dikenang, jadi bisa tuh dicerita ke anak cucu kalo kita pernah kesitu. Udaranya yang sejuk (atau kelewat sejuk bagi aku, maklum gak tahan dingin, pake kipas angin aja masuk angin 2 hari 2 malem --") mampu melupakan sejenak kepenatan akan tugas-tugas kuliah yang menggunung. Berjalan kesana kemari, menyusuri jalan yang ada, melihat goa yang kataku gak jelas banget bentuknya dan gak tau juga itu goa atau lubang semut #eh

7 Jun 2012

Togetherness [700 Km]

Di depan ada sebuah jembatan yang dibawahnya ada sungai yang cukup lebar, bentar-bentar, mobil melaju makin pelan dan mulai berhenti....hmmm....
Tenang-tenang yang baca jangan panik, nggak ada apa-apa dan gak kenapa-kenapa kok, kita cuma mau istirahat, nglurusin pinggang sambil berpoto ria :p (itu kita baru satu setengah jam perjalanan lho yah). Mengabadikan moment yang sebenernya gak jelas banget, maksudnya pose orang-orangnya yang gak jelas atau emang dari sononya yang udah gak jelas (hehe... :p).
(perkenalan personil dari perjalanan ini)
dari kanan Aku, Nelly, Citra, Fajar, Dika, Mas Agus, dan Evan

Jepret, dua jepret, 10 jepret sampe kesekian jepretan baru kita beranjak dan memulai lagi perjalanan tersebut. Tapi belum ada dua jam perjalanan kita berhenti lagi, untuk melaksankan ibadah sholat dhuhur. Kita berhenti disebuah masjid dipinggiran kota (itu kota apa desa ya??hmmm...). Airnya seger, betah berlama-lama dideket air, kalo boleh seh pengin berendem juga :D.

Selesai sholat kita langsung lanjut lagi dan lagi-lagi kita berhenti lagi, menuju mini market buat beli air minum. Ada yang menyelam sambil minum air disitu

30 Mei 2012

Buy condom at night (baca ; tugas)

Cerita ini terjadi karena ada sebuah tugas dari salah satu mata kuliah di semester empat, yaitu mata kuliah Pemasaran Sosial atau dikenal dengan Kewirausahaan (KWU). Tugas besar ini berjudul “Buy Condom at Night”. Denger aja udah bikin bulu kuduk ini merinding, kaget, gak nyangka dan berbagai kepanikan yang lainnya. Dan itu dilakukan sepasang, terserah mau pasangan kekasih, teman biasa atau teman tapi mesra juga enggak apa-apa, intinya berpasangan. Makin bikin pengin garuk-garuk tanah aja neh tugas. Mau gak mau, suka gak suka, hujan ataupun panas, harus tetep dikerjakan tugas ini.
Butuh semedi berhari-hari untuk menebalkan dan menguatkan mental untuk melakukan tugas tersebut. Ya maklum saja, bagi sebagian orang membeli barang-barang seperti itu (baca ; kondom) masih dianggap tabuh, kalaupun ada yang beli barang itu, masih dianggap hal yang negatif. Apalagi saya, perempuan baik-baik dan memakai jilbab. Sungguh tantangan yang sangat berat. Kalaupun boleh protes, ini jilbab mau ditaruh mana. Bolehkah saya membeli dengan menggunakan cadar?? Biar wajah ini tak dikenali oleh siapapun. Tapi, ya udah ini hanya sebuah tugas untuk melihat bagaimana respon dari penjual kondom tersebut jika ada sepasang anak manusia yang umurnya masih muda membeli benda itu di malam hari. Sedih, senang, cemberut, galau atau muka datar. Hmm… mari kita selesaikan cerita ini agar tau bagaimana ekspresi penjual tersebut.
Di malam jumat itu akhirnya saya putuskan untuk melakukannya, setelah berhari-hari menguatkan mental. Saya ditemani oleh teman sekelas saya yaitu Nurcahyo Maulana atau biasa dipanggil Ayak. Waktu menunjukkan 20.30, namun sepertinya masih kurang malam, akhirnya kita putuskan untuk makan malam dahulu, sekalian mendiskusikan apotek mana yang akan kita datangi.
Setelah makan dan dirasa sudah cukup malam kita mencari apotek yang sepi. Yah, memang benar-benar butuh mental yang sangat kuat untuk membeli benda itu. Akhirnya kita menemukan apotek kecil dan juga sepi di daerah banyumanik, pinggir jalan besar ke arah ADA. Untuk memasuki apotek itu butuh nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Oke, hap…hap…bismillah. Buka pintu

23 Mei 2012

Journey 700 km to togetherness

Pagi yang sangat cerah untuk hari ini, bangun siang dengan badan pegel-pegel :D
bukan sekedar itu, 3 hari yang lalu dengan perjalanan yang "freak", kenapa aku bilang freak? dari rute yang gak jelas dan pastinya keadaan orangnya yg bener-bener freak :p banyak tersirat cerita yang terkadang susah untuk diungkapkan, biarkan hati dan perasaan yang menggambarkannya (hahaha, lebey). Jadi, cukup garis besar perjalanan ini. Perjalanan dari Semarang-Tegal-Wonosobo-Dieng-Magelang-Jogja-Semarang. Wooww, amazing... tentunya gak jalan kaki juga kali yah. Dengan sebagian driver yang baru kemarin bikin sim A, yah dzikir terus tiap meter perjalanan deh. Ajaib sekali saudara-saudara.

Start 20.40 dari Semarang. Tapi yah, kalo boleh cerita sedikit, yang telat jemput siapa yang marah-marah siapa -_- okelah orang sabar makin lebar jidatnya (lho?!). Kembali. Rencana awal berangkat jam segitu biar nyampe Tegal itu malem dan masih cukup waktu buat istirahat dulu sebelum perjalanan selanjutnya. Namun, apa yang terjadi? saksikan setelah pesan-pesan berikut ini (eh...) hehehe... gak ada iklan tentunya. Jalanan macet sodara-sodara, aaaaa... gak sesuai rencana. Hal yang paling parah,