Cerita
ini terjadi karena ada sebuah tugas dari salah satu mata kuliah di semester
empat, yaitu mata kuliah Pemasaran Sosial atau dikenal dengan Kewirausahaan
(KWU). Tugas besar ini berjudul “Buy Condom at Night”. Denger aja udah bikin
bulu kuduk ini merinding, kaget, gak nyangka dan berbagai kepanikan yang
lainnya. Dan itu dilakukan sepasang, terserah mau pasangan kekasih, teman biasa
atau teman tapi mesra juga enggak apa-apa, intinya berpasangan. Makin bikin
pengin garuk-garuk tanah aja neh tugas. Mau gak mau, suka gak suka, hujan ataupun
panas, harus tetep dikerjakan tugas ini.
Butuh
semedi berhari-hari untuk menebalkan dan menguatkan mental untuk melakukan
tugas tersebut. Ya maklum saja, bagi sebagian orang membeli barang-barang seperti
itu (baca ; kondom) masih dianggap tabuh, kalaupun ada yang beli barang itu, masih
dianggap hal yang negatif. Apalagi saya, perempuan baik-baik dan memakai jilbab.
Sungguh tantangan yang sangat berat. Kalaupun boleh protes, ini jilbab mau
ditaruh mana. Bolehkah saya membeli dengan menggunakan cadar?? Biar wajah ini
tak dikenali oleh siapapun. Tapi, ya udah ini hanya sebuah tugas untuk melihat
bagaimana respon dari penjual kondom tersebut jika ada sepasang anak manusia
yang umurnya masih muda membeli benda itu di malam hari. Sedih, senang,
cemberut, galau atau muka datar. Hmm… mari kita selesaikan cerita ini agar tau
bagaimana ekspresi penjual tersebut.
Di
malam jumat itu akhirnya saya putuskan untuk melakukannya, setelah berhari-hari
menguatkan mental. Saya ditemani oleh teman sekelas saya yaitu Nurcahyo Maulana
atau biasa dipanggil Ayak. Waktu menunjukkan 20.30, namun sepertinya masih
kurang malam, akhirnya kita putuskan untuk makan malam dahulu, sekalian
mendiskusikan apotek mana yang akan kita datangi.
Setelah
makan dan dirasa sudah cukup malam kita mencari apotek yang sepi. Yah, memang
benar-benar butuh mental yang sangat kuat untuk membeli benda itu. Akhirnya
kita menemukan apotek kecil dan juga sepi di daerah banyumanik, pinggir jalan
besar ke arah ADA. Untuk memasuki apotek itu butuh nafas panjang dan
menghembuskannya secara perlahan. Oke, hap…hap…bismillah. Buka pintu