Siang sendu yang masih bersisakan tetesan air hujan yang sedari tadi sudah mereda, yang mengantarkan saya dalam kelaperan (lah apa hubungannya coba). Siang hari ini yang seharusnya saya lagi duduk manis dikampus mendengarkan ocehan sang ibu dosen, tapi saya putuskan untuk berdiam diri didalam kamar kosan yang luasnya bisa buat guling-guling kebo (gak juga dink, ya kali kosan saya itu lapangan). Bukan malas, tapi kepalang tanggung, udah ujan dipas jam kuliah pertama ya udah inisiatip hemat bensin sekalian aja kuliah kedua gak usah ikut, hehehe (Hidup mahasiswa !!). Tadi niatnya biar manfaatin waktu, mau mengawali bikin laporan yang sejak kemarin lebih seram mengahantui saya daripada hantu (lah apa pula ini). Eeehhh malah tertarik buka blog usang yang lama tak terjamah, teringat satu janji untuk menuliskan sebuah cerita. Cerita tentang sang pengembara yang berjudul PARA PENCARI SUNRISE, jeng jeeeeeeenggggg....
Tapi saya laper...bentar ya mau beli cemilan dulu, cemilan sebungkus nasi, sepotong roti pisang coklat kacang dan sebatang lunpia (sebatang?? apadeh itu sebutannya).
Lanjuttt, udah kenyang tinggal tidurnya (kapan nulisnya??). Sebenernya ini kisah penculikan yang direncanakan. Serem yahh...gak juga, yang diculik juga girang-girang aja, malah mau lagi buat diculik (Nahh lohh...). Kenapa saya bilang diculik, sebenernya waktu diajakin juga belum sempet jawab iya, tapi pas hari H nya udah maen angkut-angkut aja dan pasrah juga mau dibawa kemana. Tapi bukan gak tau juga mau ke arah mana, setau saya mau ke Wonosobo, ya mungkin paling banter maennya ke Dieng, dalam benak saya seh gitu. Bawa baju juga ala kadarnya, tau juga klo disana dingin, bawa jaket tebel satu cukup mungkin kali ya. Jaket angkatan pula, maklum cuman itu satu-satunya jaket tebel yang saya miliki (curhat...).
Langit sore terlihat jingga yang mulai tertutup oleh awan-awan hitam saat deru motor beat disusul dengan megapro yang bermuatan "lebih" (lebih?? saya juga bingung maksudnya apa) sampai di depan gerbang kosan saya. Hampir maghrib kedua bocah penculik itu tiba di kosan saya. Eh salah, ada tiga. Dua laki-laki, yang satu kurus, satunya gendut dan satu lagi seorang perempuan berkucir satu (itu ciri-cirinya, barangkali ada yang menemukan dalam keadaan hidup atau terkapar, silahkan laporkan segera ke Pak RT, hehehe).
Kita mulai melaju dijalanan, berkejaran dengan pekatnya awan yang seakan ingin segera menumpahkan air yang dibendungnya ke bumi. Ternyata jalanan padat merayap, bak seorang maling lari dari kejaran polisi, kita melaju melewati sempitnya celah-celah antara kendaraan yang satu dengan kendaraan yang lain. Yang bonceng cuma bisa merem melek. Langit mulai gelap, bukan pula tanda akan turun hujan, tapi ya emang udah sore, baca aja tadi, berangkat aja udah hampir maghrib kan (hehehe...).
Lama waktu berselang, kita sampai di jalanan yang gelap gulita, kita berada di tengah hutan belantara sodarah-sodarah. Panik !! gak lah ya, gak hutan belantara juga. Belum ada lampu di jalanan tersebut. Tiba-tiba ada sesosok makhluk yang mengikuti jalan kita. Satria ninja hijau (bukan kolor ijo loh yah). Dan dipertengahan jalan hilang entah kemana, terbang bersama angin malam yang membuat bulu kuduk berdiri. Usut punya usut, ternyata itu mas-mas pake motor kawasaki ninja warna hijau. Karena lampu motornya mati, akhirnya nguntit kita dari belakang. Saya kira mau ikutan jadi anggota geng kita. Mana maen pergi aja lagi kagak bilang terimakasih, boro-boro ngasih duit (apadeh,mahasiswa mata duitan). Setelah berkutat dengan turunan tajam, tanjakan terjal, belokan-belokan yang memacu adrenalin tiba waktunya untuk mengisi perut (gubraakk..). Maklum kita belum makan dari SD (hehe...). Sambil merenggangkan kaki, encok dan kawan-kawan, kita berhenti disebuah rumah makan. Isi amunisi.
Setelah melanjutkan perjalanan dalam beberapa puluh menit, akhirnya sampai juga kita di Wonosobo. Istirahat di rumah sodara salah satu dari kami. Barulah disitu saya dijelaskan menuju kemana perjananan ini. Gilllaaakk, syok dengernya, pengin pingsan, tapi gak pingsan-pingsan dan akhirnya saya cukupkan untuk melongo saja. Gimana gak melongo coba meennn, kita bakal naik gunung (gak juga dink, bukit seh lebih tepatnya) dengan peralatan ala kadarnya (kenapa tiap perjalanan saya itu bertema ala kadarnya). Baju yang saya bawa kemeja buat ke Mall pula, mana bisa buat menahan dinginnya udara dipuncak sana. Okelah kita pasrahkan kepada Allah swt. Malam kian larut, saatnya beristirahat untuk memulihkan tenaga, persiapan untuk esok hari. (Good night, have a nice dream yach...).
Pagi menjelang dengan badan yang menggigil. Dingin pemirsah. Belum ada rencana pagi itu, masih pelang-peleng duduk-duduk gak jelas. Malah ditinggal kabur oleh kedua lelaki yang membawa saya kemari (agak gimana gitu bahasanya -,-). Ya alesannya mau jenguk temennya yang lagi KKN di daerah itu. Lah dari pada bengong gak jelas, sarapan udah, dan berbincang banyak dengan gadis berkucir satu itu pun sudah, akhirnya saya tidur lagi. No comment, saya ngantuk. Pukul 10.00 saya baru sadar dari ketidaksadaran saya, kedua laki-laki tersebut belum kunjung pulang juga. Namun, beberapa menit kemudian akhirnya mereka menemukan jalan pulang. Time to take a bath. Dan cuss lagi. Sebelum ke desa yang lebih tinggi lagi letaknya, kita pergi untuk membeli sedikit perlengkapan dan sesuap nasi untuk mengisi perut (parah, padahal udah sarapan lima piring tuh para laki-laki). Kalo boleh sedikit bercerita, ketika berada disana, gak tau entah karena orangnya baek-baek atau kitanya yang rakus. Tiap singgah dirumah seseorang pasti ditawarin makan. Hidup disana, satu hari bisa makan lebih dari 3 kali (tengok bentuk perut, aduhai...). Sampai pada suatu titik, saya menemukan cabai terpedas yang pernah saya makan dan membuat saya terkena serangan cegukan mendadak dalam sekali cicip
![]() |
| Cabe macam apa ini -_- |
Hei saya ketemu lagi dengan mie ongklok, dulu saya pernah menghinakan makanan itu, eh sekarang saya doyan pemirsah (nyengir kuda). Enak juga pake sate ayam, rasanya lebih mendingan dari yang pernah saya inget dulu. Tidak terlalu menjijikan. Jempol buat mie ongklok yang ini. (senyum manis acungin jempol).
![]() |
| Mie Ongklok Longkrang |
Oke saatnya cuusss ke desa selanjutnya, kerumah yang katanya masih sodara dari salah satu kami. Jalanan yang menanjak, hujan, dan motor yang saya naiki bersama si laki-laki kurus hampir saja tak mampu mengalahkan terjalnya tanjakan yang kita lalui. Meski harus bergaya kaya bebek berenang gitu, dan terhinakan dengan kendaraan yang berani-beraninya mendahului kami, akhirnya kita sampai ditempat tujuan. Tapi ternyata tidak sampai situ perjalanan kita, masih ada desa lagi yang lebih tinggi yang harus kita lalui, desa yang katanya paling tinggi di Jawa. Cetaaarrrrr...
Niatnya seh dari sini kita bakal berangkat pukul dua dini hari untuk melakukan pendakian (ceile, bahasanya berat meeenn). Tapi dari hasil musyawarah besar (ada pembacaan AD/ART juga gak? atau pemilih ketua gitu) kita putuskan sebelum malam semakin larut, kita berangkat ke desa selanjutnya dan menginap di sana, baru pagi-pagi buta kita melakukan pendakian. Oke deh siap!!
![]() |
| Liat papannya ya pemirsa, bukan yang berpose (gambar ini diambil sepulangnya, soalnya waktu berangkat itu keadaannya gelap gulita) |
Malam kian larut, udara dingin pun semakin menusuk. Kita merapat dirumah seseorang yang masih sodara sama salah satu dari kami itu (banyak bangetnya sodaranya, satu desa udah sodaranya semua mungkin). Disini saya menemukan hal yang agak aneh, biasanyakan buat menghangatkan diri pake pemanas, api unggun atau bakar diri mungkin, tapi disini pake arang, Glekkk. apa gak mati ya kita sama gas sisa pembakarannya (agak parno sayanya). Saat itu kita disodorin sama kentang rebus, awalnya seh asik aja makan. Tapi, ketika tiba dibahasan dimana dan bagaimana tanaman tersebut tumbuh, hmm... jadi mikir 1000 kali buat memakan kentang rebus itu lagi (agak lebay ya, kitanya aja yang mikirnya berlebihan). Tumbuhnya dideket danau cuy, dan kalian yang beriman akan mengerti maksud itu semua ketika tiba di akhir kisah ini.
![]() |
| Pemanas ajaib, tong teng tong teng... |
Saatnya tidur untuk esok pagi yang sangat dinanti.
Alarm sahut menyahut, berkejaran kesana kemari (ebuset, itu alarm apa ayam lagi main pilm india??) saat pukul tiga dini hari. Awalnya cuma langsung matiin, masih ngantuk. Tapi diluar sana ada yang mengetuk pintu dengan hebohnya (gak dink, malah gak kaya lagi ngetuk pintu, tapi lebih mirip garuk-garuk pintu). Tumben tu para cowo gesit, biasanya pake lama. Saatnya bersiap dan memulai perjalanan. Dengan berjalan kaki, kami berempat dan dua orang warga setempat, kita mulai melangkahkan kaki menuju bukit, bukit Sikunir, yah bukit Sikunir adalah tempat yang akan kita tuju untuk melihat indahnya matahari terbit dari tempat tertinggi.
Dengan sandal cantik saya yang sangat gak pas banget buat mendaki, kita mulai melangkahkan kaki, menuju puncak bukit. Huuhh, ngos-ngosan juga, udah lama banget gak olahraga, dan kita bawa truk tronton dibelakang (Lekaki gendut = Evan, red). Tapi, ada untungnya juga buat saya, bisa banyak istirahat di sela-sela perjalanan. Walaupun gak terlalu tinggi, mungkin 600 m tapi lumayan bikin nafas saya tersengal-sengal. Udaranya yang dingin dan jarang olahraga pula. Setengah perjalanan terdengar sayup-sayup adzan dari arah perkampungan. Yah mungkin sedikit mendekati waktu fajar. Cemingiitttt lanjutkan perjalanan.
Naik dan terus naik, melewati gelapnya langit dengan bintang-bintangnya, menelusuri jalan yang hanya setapak. Terjal dan cukup becek (tentu tak ada ojek). Penerangan satu-satunya adalah senter kecil yang kita bawa. Lima belas menit perjalanan dalam sisa ngos-ngosan, akhirnya puncak pun mulai terlihat. Tepuk tangan buat Evan, yeeee akhirnya bisa sampai puncak, mari ramai-ramai berikan jempol kaki buat Evan, (eh) dengan badannya yang kelewat subur bisa sampe di puncak (prok prokk prokk). Di atas bukit Dingiiiiiinnya lebih menusyuuuk pemirsah. Padahal udah pake jaket lapis dua. Makin lama tubuh makin bergetar hebat, menggigil tak karuan. Begerak kesana kemari bahkan goyang ngebor kayaknya tetep berasa dingin, dinginnya sampe ulu hati. Jleb (Apakah ini yang disebut hipotermia? entahlah, itu misteri Ilahi). Tapi bertahan demi menyapa sang mentari. Hal yang paling indah yang baru saya lihat, pemandangan kelap kelip lampu di perkampungan bergantikan hamparan awan dan gunung didepan sana. So beautiful, thanks Allah :)
![]() |
| Indahnya KebesaranMu |
Dibibir bukit, menggigil, dengan pelukan dari Apiet (perempuan berkucir satu, red) saya masih bisa bertahan menikmati indahnya ciptaan Tuhan. Sayang, bulat jingga matahari hanya terlihat beberapa detik, lautan awan lebih cepat menutupinya. Makin lama semakin terang langit di atas sana dan tubuh makin tak kuat menahan udara dingin, akhirnya kita putuskan untuk turun. Yaaahhh rasanya masih betah melihat indahnya pemandangan itu. Lagi lagi dan ingin lagi.
![]() |
| Personil kita, dari kiri Apiet, Fajar, Saya dan Evan |
![]() |
| Danau Cebong (Danau kodoknya segede apa coba *mikir keras) |
Cerita belum selesai sampai disini, sesampainya dirumah peristirahatan ada yang pengin bongkar muat isi perut (I hope, you know what I mean, hehehe). Tapi sungguh naas, tipe rumah disini tidak ada tempat pembuangan, hanya ada satu tempat, yah di pinggir danau. Disanalah biasanya para warga sekitar membuang sisa metabolisme tubuhnya. Dengan kotakan 1 x 1 meter, berderetan di pinggir danau, dengan pintu yang amat sangat minim, bocah lima tahun aja bisa melongok apa yang dilakukan orang di dalam sana. Teeetttt, Walaupun bisa sambil menikmati pemandangan danau dan sepoi-sepoi angin, musnah sudah harapan yang ada. Gak jadi dan gak berminat. Terima kasih. Sekian.
![]() |
| Beginilah wujud orang yang akan menuju kotak 1x1 m yang berderet dipinggir danau, hehe... |
"Season change and the color of autumns fades, but the memory and experience from this journey will stay with me"-9summers 10autumn.








huahhh keren.. aya kaya penulis traveling. jadi pengin kesana. enyong ora tau mana soale :(
BalasHapussuka banget sama kata2 terakhir yang di blok ireng.
Makasih mas tomi :)
Hapuskeeren
BalasHapusHatur nuhun :)
Hapus